Kadang menginginkan sesuatu yang berlebihan itu menyakitkan. Padahal hanya berharap sedikit untuk mendapatkan hak, namun setelah terjawab dan tak sesuai, tetap saja batin menangis.
Entah apa yang di pikirkan,, walaupun tahu akan resiko nya, tetap saja di dambakan. Mendambakan sesuatu yang nihil itu sia sia. Wanita selayak nya di beri kelembutan, bukan kekasaran. Wanita selayak nya mendapatkan perhatian bukan di acuhkan.
Mungkin banyak wanita yang rela begini begitu, untuk menyenangkan pasangan nya. Tapi pasangan tak tahu, mungkin tak pernah mau tau bagaimana cara menyenangkan sang wanita.
Wanita menangis bukan karena dia lemah, namun itu adalah cara meluapkan emosi, dan membuat nya tenang. Apakah egois? Saat wanita menangis? Siapa yang egois?
Berbicara tak di anggap
Tak salah namun bersalah
tapi apakah kau merasa?
atau sekedar berniat untuk merasakan ?
pilu amat pilu
acuhmu membuat bunga layu
bahagia mu kuberikan
senyumku , entah kapan kau lukiskan
apa kah ego merasuk dirimu..
atau diriku
dulu kau bagai madu
kini jiwamu bagai batu
laku mu membuat gugur hatiku
ya Allah ,, Yang maha membolak balikan hati
sabarkanlah aku
tabahkan, luluhkan hati nya
Sabtu, 20 September 2014
Kamis, 18 September 2014
Rimba meRimba
Rimba yang merimba
Rimba hijau menakutkan
Terlihat sungguh liar
aku ada disana
Di guyur deras air
Lindu pun seakan murka
Menggoncangku menuju jurang
Gelap dalam seram
Dalam rimba ku menangis
Aku ingin pulang
kembali di sayang
tapi, Pengembara tak jua datang
aku geram merasa resah
Ku cari jalan setapak
Namun nihil yang kudapat
Wahai sang maha penemu jalan
Datangkan ia, sang pengembara..
Rimba yang merimba
Ku lalui detik demi detik nya
Tetap saja langkah tak ku dengar
Aku memang harus menunggu sadar
dan tetap dalam sabar
Namun aku tunggal di tengah rimba
Berkawan awan tumbuhan binatang
Teriakpun ia tak mendengar
aku basah dalam luapan asa
Ya Maha penyelamat..
Jadikan rimbamu naungan yang hebat.
karana aku tak kuat.
Rimba hijau menakutkan
Terlihat sungguh liar
aku ada disana
Di guyur deras air
Lindu pun seakan murka
Menggoncangku menuju jurang
Gelap dalam seram
Dalam rimba ku menangis
Aku ingin pulang
kembali di sayang
tapi, Pengembara tak jua datang
aku geram merasa resah
Ku cari jalan setapak
Namun nihil yang kudapat
Wahai sang maha penemu jalan
Datangkan ia, sang pengembara..
Rimba yang merimba
Ku lalui detik demi detik nya
Tetap saja langkah tak ku dengar
Aku memang harus menunggu sadar
dan tetap dalam sabar
Namun aku tunggal di tengah rimba
Berkawan awan tumbuhan binatang
Teriakpun ia tak mendengar
aku basah dalam luapan asa
Ya Maha penyelamat..
Jadikan rimbamu naungan yang hebat.
karana aku tak kuat.
Langganan:
Komentar (Atom)